CERAMAH.INFO - "Siapa Muslimah sejati? Saya saya saya. Muslimah sejati? Taat syariah. Siap wujudkan Islam Rahmatan lil Aalamin? Siap siap siap. Allahu Akbar.."
Gema yel yel menggugah semangat ibu-ibu yang menghadiri Dauroh Islam Rahmatan lil Aalamin ke-3, di HSG Khoiru Ummah, Jl. Mastrip Jember. Sapaan hangat host yang menanyakan tiga kenikmatan paling indah kian menghangatkan forum yang kebetulan mengusung tema "Indahnya Islam Jalan Menuju Rahmatan Lil Aalamin".
Peserta saling menyampaikan pendapat terkait kenikmatan paling indah yang dirasakan. Nikmat hidup, keimanan, dan kesehatan adalah jawaban yang paling banyak terucap pada forum yang berlangsung hari Ahad, 19 Maret 2017 ini. Iya, memang diantaranya kenikmatan yang ada, iman adalah kenikmatan yang luar biasa, sebab IA nya adalah bekal hakiki untuk dibawa ke akhirat kelak. ustadzah Fayruz selaku pemateri pertama menjelaskan lebih dalam apa itu iman. Secara bahasa jamak diketahui bahwa iman adalah meyakini dengan pasti, dengan kadar 100%. Maknanya iman itu keyakinannya mutlak tanpa keraguan sedikit pun. Secara istilah iman diartikan dengan membenarkan dengan lisan, mengucapkan dengan lisan, membuktikan dengan amal perbuatan. Dari pembuktian ini akan bisa diukur seberapa level keimanan seorang muslim.
Keimanan level pertama dapat ditandai dengan mengakui keberadaan Allah. Level kedua dapat dirasakan dengan keyakinan Allah sebagai pencipta alam semesta. Keimanan ini dikenal dengan keimanan rububiyah. Level ketiga adalah iman akan Asma wa sifat Allah, yakni meyakini keberadaan 99 nama Allah beserta sifat Allah sekaligus meyakini konsekuensi makna yang ada pada setiap namanya. Sedangkan level keempat adalah keimanan uluhiyah, yakni meyakini bahwa Allah adalah Sang pembuat aturan, penentu segala arah kehidupan, alam, dan manusia.
Keimanan uluhiyah ini menuntun muslim untuk mengetahui apa saja kelengkapan aturan yang dimiliki Islam. Sebagaimana yang dikutip dari alMaidah ayat 3, dapat diketahui bahwa Islam adalah seperangkat aturan yang lengkap. Al Islamu nidhomun syamilun. Kelengkapan nya mencakup aturan tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan Allah, dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Artinya Islam sebenarnya memiliki panduan lengkap mulai dari bagaimana kita mengerjakan shalat, berpakaian, berdagang, berbicara, hingga bernegara. Namun sayangnya pada masa kini, aturan ini masih belum semuanya dilaksanakan atau bahkan diketahui oleh seluruh muslim, masih banyak yang hanya perhatian pada urusan ibadah semata. Misalnya khusyuk shalat namun hobi riba, ibadah puasa namun belum menutup aurat, dll. Artinya Islam masih dilaksanakan setengah setengah, belum menyeluruh, belum kaffaah sebagaimana yang diperintahkan dalam Al Baqarah ayat 208.
Maka, di sesi kedua ustadzah Zahida menyambungkan iman supaya sampai pada level aman harus senantiasa dicari. Jika sudah dapat jangan sampai dilepas, jangan ditinggal, gandeng terus keimanan ini sebab iman ini perlu untuk bisa menjalankan puasa wajib, perlu untuk bisa menjalankan shalat. Iman itu perlu untuk bisa menjalankan keterikatan terhadap aturan Allah. Jika imannya masih lemah, masih belum aman semua level maka cari. Pencarian iman dilakukan dengan proses berpikir akan tanda tanda pada ciptaan Allah. Kemudian memahami apa yang sudah ditemukan, dan supaya mantap haruslah mencari iman dengan menuntut ilmu, ngaji Islam secara rutin.
Saat ini menggenggam iman itu sulit, sebab kehidupan yang menyelimuti muslim bukan Islam. Iman ini bisa subur dan produktif jika ada daulah Islam, daulah khilafah seperti di masa Rasul dan shahabat. Daulah khilafah ibarat bendungan yang tegak berdiri menjaga aqidah ummat, menjaga terjaminnya keimanan muslim. Tanpa daulah, ummat seperti hidup dalam masa jahiliyah, bahkan bisa lebih parah dibanding sebelum masa Rasul terdahulu.
Untuk mengakhiri masa jahiliyah, nabi Muhammad diutus berdakwah. Dakwah adalah gerakan untuk merubah pemikiran, perasaan, tingkah laku manusia dari jahiliyah munuju Islam hingga terbentuk masyarakat Islam dalam sebuah daulah khilafah islamiyyah. Nabi Muhammad mengawali dakwah dengan membina shahabat secara rutin, lalu mengajak shahabat menyebarkan apa yangu dipahaminya ke tengah ummat. Dan untuk bisa menerapkan Islam secara total dalam level daulah Rasul waktu itu meminta dukungan dari pemilik kekuasaan agar bersedia menjalankan Islam secara sempurna dalam level bernegara. Jalan inilah yang dicontohkan Rasul untuk menjadikan Islam sebagai Rahmatan lil Aalamin. Islam yang membawa kemaslahatan dan mencegah segala kemaksiyatan.
Di akhir acara yang digelar oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) DPD Jember ini, ustadzah Zahida menyimpulkan bahwa dakwah itu untuk menegakkan khilafah. Dengan meneladani tahapan dakwah Rasul sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya. Aktivis MHTI ini menutup forum yang digelar sejak pukul 08.30 hingga 12.00 siang tadi dengan motivasi ajakan dakwah, sebab dakwah adalah kewajiban, diam berpangku tangan tanpa dakwah adalah kemaksiyatan dengan mengupayakan sabda Nabi: "Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus. (HR Ahmad)."
Wallahu a'lam. [Arin RM/KabarPos]
Advertisement
