Ceramah.Info, JAKARTA-Masih ingatkah hasil survei Indikator Politik Indonesia yang menyebutkan bahwa pasangan nomor urut 2 di Pilgub DKI 2017 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat berpeluang memenangkan Pilgub yang digelar 15 Februari mendatang?
Ternyata itu ‘akal-akalan’ yang punya lembaga survei Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dengan ‘si bos’. Hal itu terungkap setelah Whatsapp Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menjadi viral.
Beragam komentar dari netizen setelah hasil Whatsapp Muhtadi itu tersebar luas di media sosial (Medsos). Ada yang percaya ada pula menyebut itu hanya berita fitnah atau hoax.Sebagai gambaran, pada survei lembaga Muhtadi beberapa waktu lalu, ia menyebutkan, meski elektabilitas turun. Namun Ahok mendapat respon baik dari sisi kinerjanya dari masyarakat DKI Jakarta.
Bahkan Burhan membela ‘mati-matian’ Ahok bahwa biasanya jika petahana dinilai baik oleh pemilih maka elektabilitas juga baik. Terdapat kepuasan terhadap kinerja Ahok sebagai Gubernur sekitar 69%.
Dalam perbincangan Whatsapp itu, terungkap secara jelas bahwa orang dekat Presiden Jokowi, Luhut Binsar Panjaitan mengatur hasil survei agar pasangan Ahok-Djarot memiliki elektabilitas di atas 40 persen.
“Kawannya: Mas, surveinya itu dah sesuai percakapan di rpt malam-malam itu dgn Luhut kan? Muhtadi: Ha-ha.. Aku sama Populi si Niko dan Cirrus dipaksa Luhut di pertemuan itu. Pusing, ahok diminta jadi 40 persen, AHY pokoke buncit, Yo terpaksa,” begitu hasil perbincangannya.
Sesuai pengakuan Muhtadi, awalnya ia merasa keberatan merilis hasil survei yang tidak sesuai fakta di lapangan. Namun, sangat terpasa Muhtadi melakukan itu. Bahkan di akhir perbincangan itu Muhtadi menyebutkan, jika seseorang mengerti ilmu survei, pasti sangat paham jika survei yang dibuatnya itu adalah permainan.
“Kawannya: Tapi hasile cantik koq mas. Muhtadi: Hatiku ndak terima, tp terpaksa. Sing ngerti survey pasti ngerti iki mainan… Wis.”
Saat redaksi lintasparlemen.com mencoba menghubungi Muhtadi untuk mengecek kebenaran informasi itu. Namun, hingga saat ini pesan Whatsapp kami belum juga dibalas, bahkan belum terbaca. Begitu pula saat ditelepon, Muhtadi juga belum meresponnya.
Berikut hasil perbincangan Muhtadi soal pengaturan survei Ahok-Djarot:
Kawannya: Mas, surveinya itu dah sesuai percakapan di rpt malam-malam itu dgn Luhut kan?
Muhtadi: Ha-ha.. Aku sama Populi si Niko dan Cirrus dipaksa Luhut di pertemuan itu. Pusing, ahok diminta jadi 40 persen, AHY pokoke buncit, Yo terpaksa.
Kawannya: Tapi hasile cantik koq mas
Muhtadi: Hatiku ndak terima, tp terpaksa. Sing ngerti survey pasti ngerti iki mainan… Wis
Melalui jejaring sosial Twitter, Burhanuddin Muhtadi membantah keras screenshot percakapan WA yang disebut sebagai miliknya.
"Wallahi, demi Tuhan, itu bukan WA saya. Hoax. Masak kamu percaya akun ngga jelas begitu?" ungkapnya merespon pertanyaan dari akun @chamadhojin terkait screenshot tersebut. [KNF]
Ternyata itu ‘akal-akalan’ yang punya lembaga survei Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dengan ‘si bos’. Hal itu terungkap setelah Whatsapp Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menjadi viral.
Beragam komentar dari netizen setelah hasil Whatsapp Muhtadi itu tersebar luas di media sosial (Medsos). Ada yang percaya ada pula menyebut itu hanya berita fitnah atau hoax.Sebagai gambaran, pada survei lembaga Muhtadi beberapa waktu lalu, ia menyebutkan, meski elektabilitas turun. Namun Ahok mendapat respon baik dari sisi kinerjanya dari masyarakat DKI Jakarta.
Bahkan Burhan membela ‘mati-matian’ Ahok bahwa biasanya jika petahana dinilai baik oleh pemilih maka elektabilitas juga baik. Terdapat kepuasan terhadap kinerja Ahok sebagai Gubernur sekitar 69%.
Dalam perbincangan Whatsapp itu, terungkap secara jelas bahwa orang dekat Presiden Jokowi, Luhut Binsar Panjaitan mengatur hasil survei agar pasangan Ahok-Djarot memiliki elektabilitas di atas 40 persen.
“Kawannya: Mas, surveinya itu dah sesuai percakapan di rpt malam-malam itu dgn Luhut kan? Muhtadi: Ha-ha.. Aku sama Populi si Niko dan Cirrus dipaksa Luhut di pertemuan itu. Pusing, ahok diminta jadi 40 persen, AHY pokoke buncit, Yo terpaksa,” begitu hasil perbincangannya.
Sesuai pengakuan Muhtadi, awalnya ia merasa keberatan merilis hasil survei yang tidak sesuai fakta di lapangan. Namun, sangat terpasa Muhtadi melakukan itu. Bahkan di akhir perbincangan itu Muhtadi menyebutkan, jika seseorang mengerti ilmu survei, pasti sangat paham jika survei yang dibuatnya itu adalah permainan.
“Kawannya: Tapi hasile cantik koq mas. Muhtadi: Hatiku ndak terima, tp terpaksa. Sing ngerti survey pasti ngerti iki mainan… Wis.”
Saat redaksi lintasparlemen.com mencoba menghubungi Muhtadi untuk mengecek kebenaran informasi itu. Namun, hingga saat ini pesan Whatsapp kami belum juga dibalas, bahkan belum terbaca. Begitu pula saat ditelepon, Muhtadi juga belum meresponnya.
Berikut hasil perbincangan Muhtadi soal pengaturan survei Ahok-Djarot:
Kawannya: Mas, surveinya itu dah sesuai percakapan di rpt malam-malam itu dgn Luhut kan?
Muhtadi: Ha-ha.. Aku sama Populi si Niko dan Cirrus dipaksa Luhut di pertemuan itu. Pusing, ahok diminta jadi 40 persen, AHY pokoke buncit, Yo terpaksa.
Kawannya: Tapi hasile cantik koq mas
Muhtadi: Hatiku ndak terima, tp terpaksa. Sing ngerti survey pasti ngerti iki mainan… Wis
Melalui jejaring sosial Twitter, Burhanuddin Muhtadi membantah keras screenshot percakapan WA yang disebut sebagai miliknya.
"Wallahi, demi Tuhan, itu bukan WA saya. Hoax. Masak kamu percaya akun ngga jelas begitu?" ungkapnya merespon pertanyaan dari akun @chamadhojin terkait screenshot tersebut. [KNF]
Advertisement

